FKT: Ruth Theresia - Mt Gede & Mt Pangrango (Indonesia) - 2020-11-24

Athletes
Route variation
up & down
Multi-sport
No
Gender category
Female
Style
Supported
Start date
Finish date
Total time
5h 25m 40s
Report

FKT GP25 Breaking 5.30

by Ruth Theresia

FKT GP25 sub 5.30 jam memang sulit tapi kata siapa tidak mungkin. Dengan segala kerja keras selama latihan, perencanaan yang matang, dan team support yang solid pasti bisa dicapai. Pandemi memang memangkas semua race yang sudah direncanakan, tapi tidak mematahkan semangat saya untuk tetap latihan. Bersyukur ada project FKT ini, saya dan coach membuat rencana untuk mengikuti FKT ini sebagai uji coba hasil latihan selama 5 bulan. Rencana awal hanya untuk breaking personal record saya di event Gepang Speed Trail 2016 (7 jam 9 menit), namun ternyata ada challenge untuk break 5.30 jam untuk kategori wanita. Setelah diskusi dengan coach, akhirnya plan awal pun berubah menjadi breaking 5.30.

Saya tahu rute GP25 ini sangat sulit karena medan yang sangat teknikal, apalagi ditambah kondisi cuaca masuk musim penghujan. Karena format self-support (non event), akhirnya saya berniat membentuk team support sendiri. Saya pilih beberapa orang saja, tidak terlalu banyak karena menyesuaikan dengan kebutuhan dan masih dalam kondisi pandemi. Kami menyusun perencanaan dengan 2 kali zoom meeting. Ternyata pada saat hari H, mereka sangat solid sekali. Semua perencanaan berjalan lancar, sesuai rencana. Yang lebih saya syukuri lagi adalah Tuhan memberikan hari yang cerah, padahal kalau lihat prediksi cuaca akan ada thunderstorm mulai dari pagi hari.

Karena selama pandemi tidak ada race, saya dan team support ingin buat gebrakan di FKT ini supaya tahun 2020 ini ada yang bisa dikaryakan. Puji Tuhan, 24 November 2020 adalah hari bersejarah. Menuntaskan rute klasik GP25 dengan catatan waktu 5 jam 25 menit 40 detik adalah catatan terbaik saya.

Highlight 1: NUTRITION PLAN

Salah satu kuncian penting dalam menyelesaikan misi ini adalah perencanaan nutrisi yang tepat. Berhubung kegiatan ini berupa self-support, maka saya membuat WS sendiri dengan menempatkan tim support di beberapa titik krusial. Menurut saya pribadi, FKT ini membutuhkan kecepatan. Jadi, saya hanya perlu simple carbohydrates sepanjang perjalanan. Tujuannya agar lebih cepat ditelan dan dicerna oleh tubuh. Maka saya mengkonsumsi gel dan drink mix saja. Secara keseluruhan saya mengkonsumsi 7 gel dan 2 drink mix, supported by @univedsports. Saya sangat merekomendasi pola nutrisi dibiasakan sejak saat latihan, bukan dadakan saat hari eksekusi. 

Highlight 2: TEAM SUPPORT

Meskipun sehari-hari saya latihan sendiri, namun saya sadar untuk memecahkan FKT ini saya tidak bisa sendiri. Karena ini tidak seperti event lomba pada umumnya di mana panitia akan menyediakan water station bagi para peserta lomba, jadi untuk asupan makan/minum juga harus dipikirkan sendiri. Saya rasa akan lebih baik jika saya memiliki team support sendiri. Saya memilih beberapa orang yang memiliki kapabilitas dan pengalaman dalam race trail. Berhubung ini adalah project serius, maka saya tidak mau setengah-setengah menjalankannya. Team support yang saya butuhkan antara lain: crew water station, dokumentasi, pacer, dan 1 crew di titik start/finish. Di FKT, diizinkan untuk memiliki team support (kategori: supported), namun syaratnya adalah waktu tempuh harus lebih cepat dari target waktu sebelumnya atau yang telah ditetapkan (5.30 untuk kategori wanita).

Jangan lupa untuk mengurus simaksi dan logistik bagi team support, juga team meeting sangat diperlukan. Tujuannya untuk membuat perencanaan team yang matang. Saya sangat berterima kasih kepada team support saya. Mereka sangat solid, sangat professional, dan sangat ikhlas untuk membantu saya. Tidak ada kendala sama sekali sepanjang perjalanan, bahkan human error pun tak ada. Buatlah perencanaan yang matang seperti logistik apa saja yang harus dibawa, di titik mana saja team support harus standby, juga timetable alias estimasi waktu. Saya juga tak ragu mengkomunikasikan kebutuhan apa saja yang saya perlukan saat hari eksekusi 

Highlight 3: PACING

Sempat saya berdiskusi dengan coach saya, supaya bisa breaking 5.30 harus pakai pace berapa? Beliau (coach) tidak secara gamblang mematok harus dengan pace segini. Tidak! Beliau hanya berpesan: berpatoklah dengan hasil longrun training. Kalau bisa tahan pace dengan durasi sedikit lebih lama. Mungkin masih ada yang bingung ya. Kalau saya boleh break down sedikit, sebaiknya pelajari dulu karakteristik jalur Gunung Gede Pangrango via Cibodas. Karena saya sudah berkali-kali ke sana, jadi tidak sulit bagi saya untuk menentukan pacing yang harus saya pergunakan. Ingat, di medan trail strategi pacing sangat menentukan. It’s ok if you have to walk.

Sedikit gambaran, rute dari Balai TNGP hingga Kandang Badak menurut saya tidak terlalu terjal. Ada beberapa bagian yang bisa kita larikan. Kalau bisa, tahan sedikit dengan pace jogging ketika tanjakan tidak terlalu curam. Menuju Puncak Pangrango & Puncak Gede, saya lebih banyak melakukan power walk. Ketahuilah juga di mana kelebihan kita. Saya pribadi memiliki kelebihan di medan teknikal, khususnya saat downhill. Downhill di rute GP25 adalah kunci. Pijakan harus sempurna, jangan ada kesalahan sedikitpun. Kemarin, ada insiden saya jatuh tersandung akar saat downhill dari Puncak Pangrango menuju Kandang Badak. Beruntung tidak ada cidera parah, namun kulit bagian luar mengalami lecet karena berbenturan dengan tanah & batu. Intinya HARUS FOKUS!

Agar mamprang pada saat melakukan uphill, tambahkan menu hill interval dan speed hiking pada menu latihan anda. 

Highlight 4: THE GEARS

Pemilihan gear yang tepat juga tidak kalah penting. Saya pribadi menggunakan sepatu Hoka One One Evo Speedgoat. Kenapa? Karena dengan alasan di sesi latihan longrun saya lebih sering menggunakan sepatu ini. Saya bukan tipikal pelari yang nyaman menggunakan gear baru di saat hari eksekusi. Lebih nyaman kalau dipakai saat latihan supaya menjadi pembiasaan. Saya juga membawa trekking poles dan penggunaan trekking poles juga saya latih di sesi latihan. Saya menggunakan atasan dari Compressport, celana dari T8, dan kaos kaki dari Injinji. Selain itu, saya juga membawa jaket waterproof dan emergency blanket. 

Highlight 5: MINDSET

Di race pada umumnya saya biasanya terlihat pecicilan, hahahihi, bahkan ketawa-ketawa. Namun, untuk FKT ini saya benar-benar harus fokus. Bahkan, Ello @hollaello bilang muka saya terlihat seperti mau “pup”. Bagaimana bisa hilang fokus, kalau saya hanya punya sisa waktu kurang dari 1 jam 20 menit untuk downhill dari Puncak Gede menuju Balai TNGP. Bikin deg-degan cuy!! Yaa.. seperti Kang Arief @awsmyn bilang, HARUS FOKUS! Downhill gaspol dan tidak boleh ada salah sedikit pun. Downhill terakhir harus sempurna, salah pijak sedikit saja bisa fatal akibatnya. Di FKT ini bukan hanya fisik yang terkuras, tapi juga pikiran. Bagaimana tidak, personal best saya terakhir di sini adalah pada tahun 2016. Harus pangkas waktu kurang lebih 2 jam untuk bisa breaking 5.30.

Tak jarang saya memotivasi diri saya sendiri dengan komat-kamit di bibir, saya bilang sama diri saya “Come on, Ruth! Now or never! I can do this!” (sambil menepuk-nepuk kaki). Begitulah mantra yang keral saya ucapakan di bibir saya sepanjang downhill dari Puncak Gede ke Balai TNGP.

Mengelola dan memiliki mindset yang positif adalah hal yang tidak mudah. Namun jika saya bisa melakukannya, saya yakin kalian pun pasti bisa.

NO RACE, NO PROBLEM.
NO RUTH, NO PARTY ?

#trailrunning #hokaoneone #timetofly #teamlari2id #teamcompressportid #teamsuuntoindonesia #t8run #univedathlete #univedsports #gulfsportswear #bandrexhood #noruthnoparty 

All great pictures credit to @fajardwiaryanto